BAB II
PENDAPAT MUFASIRIN TENTANG KANDUNGAN
Q.S AL-KAHFI AYAT 66-70
A.
Teks dan terjemah
tA$s% ¼çms9 4ÓyqãB ö@yd y7ãèÎ7¨?r& #n?tã br& Ç`yJÏk=yèè? $£JÏB |MôJÏk=ãã #Yô©â ÇÏÏÈ tA$s% y7¨RÎ) `s9 yìÏÜtGó¡n@ zÓÉëtB #Zö9|¹ ÇÏÐÈ y#øx.ur çÉ9óÁs? 4n?tã $tB óOs9 ñÝÏtéB ¾ÏmÎ/ #Zö9äz ÇÏÑÈ tA$s% þÎTßÉftFy bÎ) uä!$x© ª!$# #\Î/$|¹ Iwur ÓÅÂôãr& y7s9 #\øBr& ÇÏÒÈ tA$s% ÈbÎ*sù ÓÍ_tF÷èt7¨?$# xsù ÓÍ_ù=t«ó¡s? `tã >äóÓx« #Ó¨Lym y^Ï÷né& y7s9 çm÷ZÏB #[ø.Ï ÇÐÉÈ
66.
Musa berkata
kepada Khidir: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu
yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”
67.
Dia menjawab:
“sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku”.
68.
Dan bagaimana
kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup
tentang hal itu?”
69.
Musa berkata:
“Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak
akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”.
70.
Dia berkata:
“Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu
apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”.
B. Asbab al-Nuzul
Ungkapan asbab al-Nuzuul merupakan bentuk idhafah dari kata asbab
dan al-nuzul. Secara etimologi asbab al-Nuzuul adalah sebab-sebab yang melatarbelakngi terjadinya
sesuatu. Menurut Shubhi Shalih, sebagaimana yang dikutip oleh Rosihan Anwar
(2004: 60) bahwa yang disebut asbab
al-Nuzuul ialah sesuatu yang menjadi
sebab turunnya satu atau beberapa ayat al-Quran yang terkadang menyiratkan
suatu peristiwa, sebagai respon atasnya atau sebagai penjelas terhadap
hukum-hukum ketika peristiwa itu terjadi.
Asbab al-Nuzuul adalah sebagai “sesuatu hal yang
karenanya al-Quran diturunkan untuk menerangkan status (hukum) nya, pada masa
itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan” (Khalil al-Qattan, M.,
2009: 110).
Dari
definisi Asbab al-Nuzuul diatas memberikan pengertian bahwa sebab turun
suatu ayat adakalanya berbentuk peristiwa dan adakalanya berbentuk pertanyaan.
Suatu ayat turun untuk menerangkan hal yang berhubungan hal yang berhubungan
dengan peristiwa tertentu atau memberi jawaban terhadap pertanyaan tertentu.
Walaupun
asbab al-Nuzuul merupakan ilmu
tentang mengetahui sebab-sebab turunnya ayat, tetapi tidak semua ayat dalam
al-Quran mempunyai sebab, karena tidak semua al-Quran diturunkan karena timbul
peristiwa atau karena pertanyaan. Tetapi ada diantara ayat al-Quran yang
diturunkan sebagai permulaan, tanpa sebab seperti mengenai akidah, iman,
kewajiban syariat Allah dan kehidupan pribadib sosial.
Karena
tidak setiap ayat al-Quran tidak mengandung asbab
al-Nuzuul , maka begitu pula yang terdapat pada surat al-Kahfi secara
keseluruhan. Secara khusus ayat 66 sampai ayat 70 tidak ada sebab turunnya,
tetapi hanya berupa riwayat yang didalamnya terdapat kisah pertemuan Nabi Musa
as. dengan Bani Israil sebelum Allah swt. mempertemukan Nabi Musa as. dengan Nabi Khidir as.
Sebuah
riwayat sebagaimana yang dikutip oleh Wahbah Zuhaili (1991: 317 – 318) dalam
kitabnya al-tafsiir al- Munir fil ‘aqidah
wa syari’ah wal manhaj diterima dari
Ubay bin Ka’ab ra. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa pada suatu
hari Nabi Musa as. berkhutbah dihadapan kaum Bani Israil. seusai menyampaikan
khutbahnya, datanglah seorang laki-laki bertanya: “Siapakah diantara manusia ini
yang paling berilmu ?”. Jawab Musa
“Aku”. Lalu Musa ditegur oleh Allah karena tidak memulangkan jawaban kepada
Allah, sebab hanya Allah yang Maha berilmu. Kemudian Allah memberi wahyu kepada
Musa bahwa ada orang yang lebih pandai dari dia, yaitu seorang laki-laki yang
kini berada dikawasan pertemuan dua laut. Mendengar wahyu tersebut, tergeraklah
hati Musa a.s. untuk menuntut ilmu dan hikmat dari orang yang di sebut oleh
Allah, bahwa dia adalah seorang hamba-Nya yang lebih pandai dari Nabi Musa as.
yaitu Nabi Khidir as. Nabi Musa bertanya kepada Allah: “Ya Rabbi bagaimanakah cara agar saya dapat menjumpai
orang tersebut ?”. Allah menjawab dengan firmannya: “bawalah seekor ikan dan
taruhlah pada sebuah kantong sebagai suatu benda. Bila ikan itu hilang maka
engkau akan menjumpainya disana”. Setelah mendengar keterangan tersebut, Nabi
Musa segera menemui seorang pemuda untuk dijadikan teman dalam perjalanan
tersebut dan menyuruhnya agar menyediakan seekor ikan sebagaimana telah
diperintahkan oleh Allah swt. kepadanya.
Menurut
riwayat diatas maka dari sinilah dimulainya perjalanan Nabi Musa as. untuk
menuntut ilmu dan hikmat dari orang yang di sebut oleh Allah swt., bahwa dia
adalah seorang hamba-Nya yang lebih pandai dari Nabi Musa as. yaitu Nabi Khidir
as.
C. Pendapat
Mufasirin Mengenai Tafsiran Q.S. al-Kahfi ayat 66-70
1.
Tafsir Ibnu Katsir
tA$s% ¼çms9 4ÓyqãB ö@yd y7ãèÎ7¨?r& #n?tã br& Ç`yJÏk=yèè? $£JÏB |MôJÏk=ãã #Yô©â ÇÏÏÈ tA$s% y7¨RÎ) `s9 yìÏÜtGó¡n@ zÓÉëtB #Zö9|¹ ÇÏÐÈ y#øx.ur çÉ9óÁs? 4n?tã $tB óOs9 ñÝÏtéB ¾ÏmÎ/ #Zö9äz ÇÏÑÈ tA$s% þÎTßÉftFy bÎ) uä!$x© ª!$# #\Î/$|¹ Iwur ÓÅÂôãr& y7s9 #\øBr& ÇÏÒÈ tA$s% ÈbÎ*sù ÓÍ_tF÷èt7¨?$# xsù ÓÍ_ù=t«ó¡s? `tã >äóÓx« #Ó¨Lym y^Ï÷né& y7s9 çm÷ZÏB #[ø.Ï ÇÐÉÈ
Ayat ke-66 ini menjelaskan bahwa ucapan Nabi Musa as. terhadap Nabi
Khidir as. adalah ucapan yang lemah lembut (tanpa paksaan). Oleh karena itu
wajib bagi seorang muta’allim
(pelajar) apabila menanyakan sesuatu hal kepada mua’llim (guru) dengan ucapan yang lemah lembut. Kata attabi’uka ialah mengikuti dengan
sungguh-sungguh.
Pada ayat ke-67 ini sebagai jawaban Nabi Khidir as. bahwa Nabi Musa as.
tidak akan sanggup mengikuti Nabi Khidir as. dengan alasan sudut pandang
keilmuan yang berbeda. Nabi Khidir as. diberi ilmu yang sifatnya batiniyah (dalam) sedangkan Nabi Musa
as. diberi ilmu yang sifatnya lahiriah.
Ayat 68 ini menegaskan kepada Nabi Musa as. tentang sebab Nabi
Musa tidak akan bersabar nantinya kalau terus menerus menyertainya. Nabi Musa
as. akan melihat kenyataan pekerjaan Nabi Khidir as. yang secara lahiriyah
bertentangan dengan syariat Nabi Musa as. sehingga Nabi Musa as. mengingkarinya
karena menganggap hal yang mustahil. Sedangkan secara batiniyah tidak
mengetahui hikmahnya atau kemaslahatannya.
Nabi Musa as. berjanji tidak akan mengingkari
dan tidak akan menyalahi apa yang dikerjakan oleh Nabi Khidir, dan berjanji
pula akan melaksanakan perintah Nabi Khidir selama perintah itu tidak
bertentangan dengan perintah Allah swt.
Selanjutnya dalam ayat 70 : Nabi Khidir
as. dapat menerima Nabi Musa as. dengan syarat: “Jika kamu (Nabi Musa) berjalan
bersamaku, maka janganlah kamu bertanya tentang sesuatu yang aku lakukan dan
tentang rahasianya, sehingga aku sendiri menerangkan kepadamu duduk
persoalannya. Jangan kamu menegurku terhadap sesuatu perbuatan yang tidak dapat
kau benarkan hingga aku sendiri yang mulai menyebutnya untuk menerangkan
keadaan yang sebenarnya.
2. Tafsir
al-Maraghi
Nabi Musa as. dan pembantunya bertemu
dengan seorang hamba Allah disamping batu besar. Ketika mereka kembali lagi
kesana dan hamba itu adalah Nabi Khidir as. yang memakai baju putih. Lalu Musa
memberi salam kepadanya dan Nabi Khidir menjawab: “apakah aku di negerimu ini
akan mendapat keselamatan ?”. Musa as. berkata; “sesungguhnya aku ini adalah
Musa”, Nabi Khidir berkata “apakah Musa dari keturunan Bani Israil ? Musa
menjawab: “ia benar”, kemudian Nabi Musa berkata: “apakah aku boleh mengikuti
perjalananmu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari ilmu yang telah
Allah ajarkan kepadamu ilmu yang akan kujadikan ptunjuk dalam hidupku, yaitu
ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan amal perbuatan yang saleh.
Nabi Khidir menjawab permintaan Nabi Musa
as. : “Hai Musa sesungguhnya aku mempunyai ilmu yang diajarkan oleh Allah yang
tidak kau ketahui, dan kamu mempunyai ilmu dari Allah yang tidak aku ketahui.
Kemudian Khidir memantapkan alasan ketidakmampuan Musa dengan bertanya
kepadanya.
Ketidakmampuan Nabi Musa as. untuk
bersabar dikuatkan dengan alasan akan tidak adanya ketaatan. Nabi Khidir
berkata: “Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai
pengetahuan yang cukup tentang hal itu? Dan bagaimana kamu bersabar sedangkan
engkau adalah nabi yang hanya mengetahui hal-hal yang nampak saja, sedangkan
engkau tidak mengetahui keghaiban, dan lelaki saleh itu tidak memiliki
kesabaran apabila ia melihat hal-hal yang aneh, akan tetapi ia akan ingkar
apabila melihatnya.
Kemudian Nabi Musa berkata: “bersamamu aku tidak akan ingkar atas apa
yang engkau perintahkan kepadaku apabila hal itu tidak menyalahi syariat dan
perintah Allah”.
Berkata Nabi Khidir as.: “Jika engkau ikut
dalam perjalananku, maka kamu akan memulai dengan sesuatu yang kamu anggap
ingkar terhadapnya, hingga aku sendiri yang memulai menjelaskan dan
menerangkannya kepadamu tentang kebenarannya. Sesunguhnya aku tidak akan
melakukan sesuatu kecuali kebenaran yang dibolehkan dalam urusan itu. Walaupun
secara zahirnya tidak seperti itu. Kemudian Nabi Musa as. menerima syarat
tersebut untuk menjaga adab seorang murid terhadap gurunya.
3. Tafsir al-Mishbah
tA$s% ¼çms9 4ÓyqãB ö@yd y7ãèÎ7¨?r& #n?tã br& Ç`yJÏk=yèè? $£JÏB |MôJÏk=ãã #Yô©â ÇÏÏÈ tA$s% y7¨RÎ) `s9 yìÏÜtGó¡n@ zÓÉëtB #Zö9|¹ ÇÏÐÈ y#øx.ur çÉ9óÁs? 4n?tã $tB óOs9 ñÝÏtéB ¾ÏmÎ/ #Zö9äz ÇÏÑÈ
Kata
( ) khubran pada ayat ini bermakna pengetahuan yang mendalam. Dari akar
kata yang sama lahir kata khabiir, yakni
pakar yang dalam pengetahuannya Nabi Musa as,
memiliki ilmu lahiriah dan menilai sesuatu berdasar hal-hal yang
bersifat lahiriah. Tetapi seperti diketahui, setiap hal yang lahir ada pula
sisi batiniahnya, yang mempunyai peranan yang tidak kecil bagi lahirnya hal-hal
lahiriah. Sisi batiniah inilah yang tidak terjangkau oleh pengetahuan Nabi Musa
as. Hamba Allah swt. yang saleh secara tegas menyatkan bahwa Nabi Musa as tidak
akan sabar, bukan saja karena Nabi Musa as. Dikenal berkepribadian sangat tegas
dan keras, tetapi lebih-lebih karena peristiwa dan apa yang akan dilihatnya
dari hamba Allah swt. yang saleh itu sepenuhnya bertentangan dengan hukum-hukum
syariat.
Kata
( ) attabi’uka asalnya adalah ( ) dari kata
(
) tabi’a, yakni mengikuti.
Penambahan huruf ta pad kata attabi’uka
mengandung makna kesungguhan dalam upaya mengikuti itu. Memang demikianlah
seharusnya seharusnya seorang pelajar, harus bertekad bersunggug-sungguh
mencurahkan perhatian, bahkan tenaganya, terhadap apa yang akan dipelajarinya.
Ucapan
Nabi Musa as. ini sungguh sangat halus. Beliau tidak menuntut untuk diajar
tetapi permintaannya diajukan dalam bentuk pertanyaan, “bolehkah aku mengikutimu?”. Selanjutnya beliau menamai pengajaran
yang diharapkannya itu sebagai ikutan, yakni beliau menjadikan diri sebagai
pengikut dan pelajar. Beliau juga menggarisbawahi kegunaan pengajaran itu untuk
dirinya secara pribadi, yakni untuk menjadi petunjuk baginya. Disisi lain,
beliau mengisyaratkan akan keluasan ilmu seorang hamba yang saleh itu sehingga
Nabi Musa as hanya mengharap kiranya dia mengajarkan sebagian dari apa yang
telah diajarkan kepadanya. Dalam konteks itu nabi Musa as. tidak menyatakan
“apa yang engkau ketahui wahai hamba Allah swt.”, karena beliau seepenuhnya
sadar bahwa ilmu bersumber dari satu sumber, yakni Allah swt. swt. Yang Maha Mengetahui.
Kata
( ) tuhith terambil dari kata ( ) ahaatha-yuhiithu, yakni melingkari. Kata ini digunakan untuk
menggambarkan penguasaan dan kemantapan dari segala segi sudutnya bagaikan
sesuatu yang melingkari sesuatu yang lain.
Ucapan
hamba Allah swt. ini, memberi isyarat bahwa seorang pendidik hendaknya menuntun
anak didiknya dan memberi tahu kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi dalam
menuntut ilmu, baahkan mengarahkannya untuk tidak mempelajari sesuatu jika sang
pendidik mengetahui bahwa potensi anak didiknya tidak sesuai dengan ilmu yang
akan dipelajarinya.
Hamba
yang saleh itu berkata “sesungguhnya engkau sekali-kali tidak kan sanggup
bersabar bersamaku”. Kata ( ) ma’iya/bersama aku mengandung sebab
ketidaksabaran itu. Dalam arti ketidaksabarannya bukan karena pengetahuan yang
dimiliki oleh hamba yang saleh itu, tetapi dari apa yang dilihat oleh Nabi Musa
as. Ketika bersama beliau. Ketika dia melihat pembocoran perahu, atau
pembunuhan anak dan pembangunan kembali dinding — seperti akan terbaca nanti —
apa yang dilihatnya itulah yang menjadi Nabi Musa as. tidak akan sabar,
bukannya pengetahuannya tentang pembocoran perahu agar menghindari penguasa
yang lalim, atau bagaimana masa depan anak itu. Memang dampak pengetahuan
terhadap jiwa berbeda dengan pengtahuan dampak penyaksian. Yang kedua jauh
lebih dalam dan berkesan. Itu juga sebabnya ketika Nabi Musa as. pergi
bermunajat kepada Allah swt. dan disana beliau diberitahu tentang kedurhakaan
kaumnya dengan menyembah anak lembu, beliau belum terlalu marah, tetapi begitu
kembali dan melihat kenyataan, maka amarahnya memuncak, dia menarik kepala
saudaranya yakni Nabi Harun as.
Pada
ayat berikut kita akan melihat bagaimana tatakrama Nabi Musa as. ketika
menjawab dugaan hamba Allah swt. yang saleh itu tentang ketidaksabarannya.
Ayat 69-70:
tA$s% þÎTßÉftFy bÎ) uä!$x© ª!$# #\Î/$|¹ Iwur ÓÅÂôãr& y7s9 #\øBr& ÇÏÒÈ tA$s% ÈbÎ*sù ÓÍ_tF÷èt7¨?$# xsù ÓÍ_ù=t«ó¡s? `tã >äóÓx« #Ó¨Lym y^Ï÷né& y7s9 çm÷ZÏB #[ø.Ï ÇÐÉÈ
Mendengar
komentar sebagaimana terbaca pada ayat yang lalu dia, yakni Nabi Musa as. berkata kepada hamba yang saleh itu,
Engkau insya Allah swt. akan mendapati aku sebagai seorang penyabar yang insya
Allah swt. mampu menghadapi ujian dan cobaan, dan aku tidak akan menentangmu
dalam sesuatu perintah yang engkau perintahkan atau urusan apapun.
Perlu
diingat bahwa Nabi Musa as. ketika mengucapkan janjinya diatas, tentu saja
tidak dapat memisahkan diri dari tuntunan syariat, dan agaknya diapun yakin
bahwa hamba Allah swt. yang saleh pasti mengikuti tuntunan Allah swt.. Atas dasar
itu, dapat diduga keras adanya syarat yang terbetik dalam benak Nabi Musa as. syarat yang tidak
terucapkan yakni “selama perintah itu
tidak bertentangan dengan syariat agama.”
Di
sini Nabi Musa as. menjawab dengan sangat halus juga. Dia menilai pengajaran
yang akan diterimanya merupakan perintah yang harus diikutinya, dan
mengabaikannya berarti pelanggaran. Kendati demikian, Nabi Musa as. cukup
berhati-hati dan tidak menyatakan bahwa dirinya adalah penyabar, sebelum
menyebut dan mengaitkan kesabarannya itu dengan kehendak Allah swt. swt. Dengan
menyebut insya Allah swt., Nabi Musa
as. tidak dapat dinilai berbohong dengan ketidaksabarannya, karena dia telah
berusaha, namun itulah kehendak Allah swt. yang bermaksud membuktikan adanya
seseorang yang tidak dimiliki oleh Nabi Musa as.
Ucapan
Insya Allah swt. itu disamping merupakan adab yang diajarkan
semua agama dalam menghadapi sesuatu di masa depan, ia juga mengandung makna
permohonan kiranya memperoleh bantuan Allah swt. Apalagi dalam belajar, khususnya
dalam mempelajari dan mengamalkan hal-hal yang bersifat batiniah/tasauf. Disisi
lain, perlu dicatat bahwa jawaban hamba Allah swt. yang saleh dalam menerima
keikutsertaan Nabi Musa as. sama sekali tidak memaksanya ikut. Beliau memberim
kesempatan kepada Nabi Musa as. untuk berpikir ulang dengan mengatakan, “jika engkau mengikutiku.” Beliau tidak
melarangnya secara tegas untuk mengajukan pertanyaan tetapi mengaitkan larangan
tersebut dengan kehendak Nabi Musa as. untuk mengikutinya. Dengan demikian
bahwa larangan tersebut bukan datang dari diri hamba yang saleh itu, tetapi ia
adalah konsekuinsi dari keikutsertaan bersamanya.
4.
Tafsir al-Munir
tA$s% ¼çms9 4ÓyqãB ö@yd y7ãèÎ7¨?r& #n?tã br& Ç`yJÏk=yèè? $£JÏB |MôJÏk=ãã #Yô©â ÇÏÏÈ tA$s% y7¨RÎ) `s9 yìÏÜtGó¡n@ zÓÉëtB #Zö9|¹ ÇÏÐÈ y#øx.ur çÉ9óÁs? 4n?tã $tB óOs9 ñÝÏtéB ¾ÏmÎ/ #Zö9äz ÇÏÑÈ tA$s% þÎTßÉftFy bÎ) uä!$x© ª!$# #\Î/$|¹ Iwur ÓÅÂôãr& y7s9 #\øBr& ÇÏÒÈ tA$s% ÈbÎ*sù ÓÍ_tF÷èt7¨?$# xsù ÓÍ_ù=t«ó¡s? `tã >äóÓx« #Ó¨Lym y^Ï÷né& y7s9 çm÷ZÏB #[ø.Ï ÇÐÉÈ
Dalam ayat ke-66 ini dijelaskan, bahwa
setelah Nabi Musa as. mendapatkan Nabi Khidir as. beliau memberi salam serta
memperkenalkan diri. Nabi Musa as berkata; “Bolehkah aku menemani dan mengikuti
engkau supaya mengajariku ilmu pengetahuan yang telah Allah swt. ajarkan
kepadamu, sehingga aku diberi petunjuk untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat
dan amal saleh ?. Ini menunjukkan pertanyaan yang lembut dan penuh kesopanan
(tidak ada paksaan). Inilah pertanyaan yang mesti dilakukan oleh seorang murid
terhadap gurunya.
Pada ayat ke-67 ini Nabi Khidir as.
menjelaskan sebagai jawaban kepada Nabi Musa as. bahwa Nabi Musa as. tidak akan
sanggup untuk menemani Nabi Khidir as. Ini menandakan Nabi Khidir as. diberi
kelebihan oleh Allah swt. swt. yaitu ilmu pengetahuan yang tidak dimilki oleh
Nabi Musa as.
Ayat ke-68 ini sebagai penegas (taukid) bahwa Nabi Musa tidak akan sabar
bersama Nabi Khidir as. Nabi Musa as. tidak akan mengetahui hikmah dan
kemaslahatan yang tersimpan secara hakikat dari kejadian tersebut. Kata “khubran” adalah pengetahuan yang
mendalam.
Ayat ke-69 ini menjelaskan tentang janji
Nabi Musa as. kepada Nabi Khidir bahwa ia akan sabar atas sesuatu yang akan
terjadi di hadapan Nabi Musa as. dan tidak menyalahi apa yang sudah ditetapkan
oleh Nabi Khidir as.
Ayat ke-70 ini menjelaskan, bahwa Nabi
Khidir as. menerima Nabi Musa as. sebagai murid dengan mengajukan syarat bahwa
Nabi Musa as. jangan mengajukan pertanyaan tentang sesuatu sebelum Nabi Khidir
as. menjelaskannya.
5.
Tafsir Shafwatu al-Tafaasir
Apakah
kamu mengijinkan aku menemani perjalanan agar aku memperoleh sebagian dari
ilmumu, ilmu yang akan memberi petunjuk dalam hidupku? Para Mufassir
berpendapat dialog ini merupakan bentuk etika kesopanan dan kethawaduan dari
Nabi Allah yang mulia yakni nabi Musa a.s dan oleh karena itu seharusnya
seorang murid yang ingin belajar kepada gurunya mempunyai sifat seperti ini.
Nabi Khidir berkata:”sesungguhnya engkau tidak akan bisa
bersabar atas apa yang akan engkau saksikan, Ibnu Abbas berpendapat:
sekali-kali engkau tidak akan mampu bersabar atas perbuatanku karena
sesungguhnya aku telah mengetahui sebagian dari ilmu Allah.
Bagaimana kamu
akan mampu bersabar atas perbuatan yang nampak sedangkan angkau tidak
mengetahui keghoibannya.
Musa menjawab engkau akan melihatku sebagai orang yang sabar
dan aku tidak akan membantah perintahmu Insya-Allah.
Ini adalah syarat untuk nabi Musa sebelum memulai perjalanan
yaitu jangan bertanya dan meminta penjelasan tentang sesuatu dari
tindakan-tindakan nabi Khidir hingga nabi Khidir sendiri yang menjelaskan
kepada nabi Musa tentang rahasianya, Musa menerima persyaratan nabi Khidir
untuk menjaga adab seorang murid kepada gurunya, makna “la tas ‘alni an saiin” adalah janganlah bertanya sesuatu kepadaku
hingga aku sendiri yang menjelaskannya kepadamu.
Selain dari beberapa penafsiran diatas, penulis mengemukakan
beberapa ahli Tafsir yang lain baik dari kalangan Mufassir klasik maupun modern
diantaranya; Ibnu Abbas salah seorang sahabat Nabi yang ahli dalam bidang
tafsir yang riwayat-riwayatnya telah dikumpulkan oleh Fairuzzabadi menjelaskan
bahwa perkataan Musa; hal at tabiuka
dengan sesuatu yang lebih akrab yaitu “Ashabi’uka”
(menjadi sahabatmu) (Ibnu Katsir, III, 1997: 118). Penafsiran ini tentunya
lebih mengarah pada tingkat gabungan antar teman, sehingga dengan demikian
antara guru dan murid tidak ada perbedaan yang signifikan. Karena bila yang di
ungkit perbedaannya yang mendasarantara murid dan guru, maka yang terjadi
adalah tidak adanya keberanian seorang murid dalam mengungkapkan keinginannya
untuk meminta belajar, sebagaimana telah dilakukan oleh nabi Musa.
6. Tafsir at-Thabari
tA$s% ¼çms9 4ÓyqãB ö@yd y7ãèÎ7¨?r& #n?tã br& Ç`yJÏk=yèè? $£JÏB |MôJÏk=ãã #Yô©â ÇÏÏÈ tA$s% y7¨RÎ) `s9 yìÏÜtGó¡n@ zÓÉëtB #Zö9|¹ ÇÏÐÈ y#øx.ur çÉ9óÁs? 4n?tã $tB óOs9 ñÝÏtéB ¾ÏmÎ/ #Zö9äz ÇÏÑÈ tA$s% þÎTßÉftFy bÎ) uä!$x© ª!$# #\Î/$|¹ Iwur ÓÅÂôãr& y7s9 #\øBr& ÇÏÒÈ tA$s% ÈbÎ*sù ÓÍ_tF÷èt7¨?$# xsù ÓÍ_ù=t«ó¡s? `tã >äóÓx« #Ó¨Lym y^Ï÷né& y7s9 çm÷ZÏB #[ø.Ï ÇÐÉÈ
Ayat 66-67:
Nabi Musa as. berkata kepada hamba yang berilmu, “bolehkah aku
mengikutimu supaya engkau mengajarkanku ilmu dari apa yang telah Allah ajarkan
kepadamu untuk menjadi petunjuk kepada jalan kebenaran”. Kemudian Nabi Khidir
as. (‘aalim) menjawab: “sesungguhnya
engkau tidak akan kuat untuk bersabar, itu disebabkan karean aku diberikan oleh
Allah ilmu batiniah, maka engkau tidak akan bersabar atas apa yang aku
kerjakan.
68-69:
Ayat ini menjelaskan ucapan hamba Allah yang berilmu (‘aalim) kepada Nabi Musa as.; “bagaimana
engkau bisa sabar terhadap sesuatu yang engkau lihat dari perbuatan-perbuatan
yang dengan ilmumu tidak bisa membenarkannya, karena engkau melihat dengan ilmu
lahiriah, sedangkan pekerjaanku tidak didasari lahiriah. Nabi Musa as. berkata;
Insya Allah engkau akan menemukanku orang yang bersabar terhadap sesuatu yang
aku lihat walaupun pada kenyataannya berbeda dengan yang benar menurutku”.
Ayat 70:
Seorang yang ‘alim (Nabi Khidir as.) berkata kepada nabi Musa
as., ”Jika sekarang engkau mengikutiku, maka engkau tidak boleh menanyakan
sesuatu yang aku kerjakan kemudian engkau akan mengingkarinya. Sesungguhnya aku
lebih mengetahui apa yang aku kerjakan secara batin dari segala seginya”.
7.
Tafsir al-Qurthubi
tA$s% ¼çms9 4ÓyqãB ö@yd y7ãèÎ7¨?r& #n?tã br& Ç`yJÏk=yèè? $£JÏB |MôJÏk=ãã #Yô©â ÇÏÏÈ tA$s% y7¨RÎ) `s9 yìÏÜtGó¡n@ zÓÉëtB #Zö9|¹ ÇÏÐÈ y#øx.ur çÉ9óÁs? 4n?tã $tB óOs9 ñÝÏtéB ¾ÏmÎ/ #Zö9äz ÇÏÑÈ tA$s% þÎTßÉftFy bÎ) uä!$x© ª!$# #\Î/$|¹ Iwur ÓÅÂôãr& y7s9 #\øBr& ÇÏÒÈ tA$s% ÈbÎ*sù ÓÍ_tF÷èt7¨?$# xsù ÓÍ_ù=t«ó¡s? `tã >äóÓx« #Ó¨Lym y^Ï÷né& y7s9 çm÷ZÏB #[ø.Ï ÇÐÉÈ
Ayat ke-66 menjelaskan, bahwa ini adalah permohonan/pertanyaan
yang lemah lembut (penuh dengan kesopanan) orang yang meminta menjadi murid
(Nabi Musa as.) yang baik budi pekertinya. Ayat ini menjadi landasan bahwa
seorang pelajar (muta’allim) harus
mengikuti/taat kepada guru (mu’allim)
walaupun derajatnya berbeda. Terkadang diluar kebiasaan bahwa Nabi Musa as.
seorang nabi dan rasul berguru kepada Nabi Khidir as. Kalau Nabi Khidir seorang
wali maka Nabi Musa as. lebih utama karena dia seorang nabi dan rasul. Wallahu ‘alam.
Kata ( ) rusydan ialah supaya Nabi Khidir as.
mengajar/mendidik Nabi Musa as.
Ayat ke 67-68 ini menjelaskan bahwa Nabi Musa as. tidak akan kuat
untuk bersabar terhadap sesuatu yang akan dilihatnya, ini karena Nabi Musa as.
melihat dengan lahiriah sehingga tidak bisa mengetahui hikmahnya. Sedangkan
para nabi tidak akan tinggal diam terhadap kemunkaran. Kata ( ) menunjukkan pengetahuan yang dalam artinya orang ‘alim yang
mengetahui terhadap sesuatu yang samar.
Ayat 69:
Pada ayat ini Nabi Musa as. menjawab dengan kata insya Allah artinya bahwa Nabi Musa as.
akan bersabar dan taat kepada nabi Khidir as.
Ayat 70:
Nabi Khidir as. menerima Nabi Musa as. sebagai murid dengan
syarat bahwa Nabi Musa tidak boleh menanyakan sesuatu hal sebelum nabi Khidir
menjelaskannya. Ini menunjukkan bahwa Nabi Khidir memberikan pendidikan dan
petunjuk ketika terjadi interaksi dengan murid.
8. Tafsir UUI (Universitas
Islam Indonesia)
Dalam ayat ke-66 ini Allah swt.
menggambarkan secara jelas sikap Nabi Musa as. sebagai calon murid kepada calon
gurunya dengan mengajukan permintaan berupa bentuk pertanyaan. Itu berarti Nabi
Musa as. sangat menjaga kesopanan dan merendahkan hati. Beliau menempatkan
dirinya sebagai seorang yang bodoh dan mohon diperkenankan mengikutinya, supaya
Nabi Khidir as. sudi mengajarkan ilmu yang telah Allah swt. berikan kepadanya.
Kemampuan Nabi Khidir as. meramalkan sikap
Nabi Musa as. kalau sampai menyertainya adalah berdasar ilmu laduni yang telah
beliau terima dari Tuhan, disamping ilmu anbiya yang dimilikinya. Dan memamng
demikianlah sikap dan sikap Nabi Musa as. yang keras dalam menghadapi
kenyataan-kenyataan yang bertentangan dengan syariat yang telah beliau terima
dari Tuhan.
Dalam ayat ini Nabi Khidir as. menegaskan
kepada Nabi Musa as. tentang sebab Nabi Musa tidak akan bersabar nantinya kalau
terus menerus menyertainya. Di sana Nabi Musa as. akan melihat kenyataan
pekerjaan Nabi Khidir as. secara lahiriyah bertentangan dengan syariat Nabi
Musa as. Sedangkan secara batiniyah tidak mengetahui maksudnya atau
kemaslahatannya.
Dalam ayat ini Nabi Musa as. berjanji
tidak akan mengingkari dan tidak akan menyalahi apa yang dikerjakan oleh Nabi
Khidir, dan berjanji pula akan melaksanakan perintah Nabi Khidir selama
perintah itu tidak bertentangan dengan perintah Allah swt.. Janji yang beliau
ucapkan dalam ayat ini dengan kata-kata “Insya
Allah swt.” karena beliau sadar karena sabar itu adalah perkara yang sangat
besar dan berat, apalagi ketika menyampaikan kemunkaran, seakan-akan panas hati
beliau tak tertahan lagi.
Dalam ayat ini Nabi Khidir as. dapat
menerima Nabi Musa as. dengan pesan: “Jika kamu (Nabi Musa) berjalan bersamaku,
maka janganlah kamu bertanya tentang sesuatu yang aku lakukan dan tentang
rahasianya, sehingga aku sendiri menerangkan kepadamu duduk persoalannya.
Jangan kamu menegurku terhadap sesuatu perbuatan yang tidak dapat kau benarkan
hingga aku sendiri yang mulai menyebutnya untuk menerangkan keadaan yang
sebenarnya.
D. Rangkuman Penafsiran Q.S
al-Kahfi ayat 66-70
No
|
Nama Mufassir
|
Kitab /
Halaman
|
Rangkuman
|
1.
|
Isma’il
bin ‘Umar bin Katsir
|
Ibnu
Katsir
Hal.
221-223
|
Ayat ke-66 ini
menjelaskan bahwa ucapan Nabi Musa as. terhadap Nabi Khidir as. adalah ucapan
yang lemah lembut (tanpa paksaan). Kata attabi’uka
ialah mengikuti dengan sungguh-sungguh.
Ayat ke-67 Nabi Musa
as. tidak akan sanggup mengikuti Nabi Khidir as. dengan alasan sudut pandang
keilmuan yang berbeda.
Pada ayat ke-68 Nabi
Khidir as. menegaskan tentang sebab Nabi Musa tidak akan bersabar nantinya
kalau terus menerus menyertainya. Nabi Musa as. akan melihat kenyataan
pekerjaan Nabi Khidir as. yang secara lahiriyah bertentangan dengan syariat
Nabi Musa as.
Ayat ke-69: Nabi Musa
as. berjanji tidak akan mengingkari dan tidak akan menyalahi apa yang
dikerjakan oleh Nabi Khidir, dan berjanji pula akan melaksanakan perintah
Nabi Khidir selama perintah itu tidak bertentangan dengan perintah Allah swt.
Ayat ke-70: Nabi Khidir
as. dapat menerima Nabi Musa as. dengan syarat: Nabi Musa jangan menanyakan
sesuatu yang aku lakukan dan tentang rahasianya, sehingga aku sendiri
menerangkan kepadamu duduk persoalannya.
Dari rangkuman diatas
jelas bahwa seorang pendidik harus bisa menilai kemampuan seorang murid
sebelum interaksi belajar-mengajar. Dan murid harus selalu menjaga tatakrama
terhadap gurunya.
|
2.
|
Ahmad
Mustafa al-Maraghi
|
Al-Maraghi
Hal.
255-256
|
Nabi Musa berkata:
“apakah aku boleh mengikuti perjalananmu agar engkau mengajarkan kepadaku
sebagian dari ilmu yang telah Allah ajarkan kepadamu ilmu yang akan kujadikan
ptunjuk dalam hidupku, yaitu ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan amal
perbuatan yang saleh.
Nabi Khidir menjawab
permintaan Nabi Musa as. : “Hai Musa sesungguhnya aku mempunyai ilmu yang
diajarkan oleh Allah yang tidak kau ketahui, dan kamu mempunyai ilmu dari
Allah yang tidak aku ketahui.
Ketidakmampuan Nabi
Musa as. untuk bersabar dikuatkan dengan alasan akan tidak adanya ketaatan.
Nabi Musa berkata: “bersamamu aku tidak
akan ingkar atas apa yang engkau perintahkan kepadaku apabila hal itu tidak
menyalahi syariat dan perintah Allah”.
Berkata Nabi Khidir as.: “Jika engkau ikut
dalam perjalananku, maka kamu akan memulai dengan sesuatu yang kamu anggap
ingkar terhadapnya, hingga aku sendiri yang memulai menjelaskan dan
menerangkannya kepadamu tentang kebenarannya. Walaupun secara zahirnya tidak
seperti itu. Kemudian Nabi Musa as. menerima syarat tersebut untuk menjaga
adab seorang murid terhadap gurunya.
|
3.
|
Prof.
Dr. Quraish Shihab
|
Al-Mishbah
Hal.
97-101
|
Kata ( ) khubran
bermakna pengetahuan yang mendalam. Dari akar kata yang sama lahir kata khabiir, yakni pakar yang dalam pengetahuannya
Nabi Musa as, memiliki ilmu
lahiriah dan menilai sesuatu berdasar hal-hal yang bersifat lahiriah. Tetapi
seperti diketahui, setiap hal yang lahir ada pula sisi batiniahnya, yang
mempunyai peranan yang tidak kecil bagi lahirnya hal-hal lahiriah. Sisi
batiniah inilah yang tidak terjangkau oleh pengetahuan Nabi Musa as.
Kata attabi’uka asalnya adalah tabi’a, yakni mengikuti.
Penambahan huruf ta pad kata attabi’uka
mengandung makna kesungguhan dalam upaya mengikuti itu.
Ucapan Nabi Musa as.
ini sungguh sangat halus. Beliau tidak menuntuk untuk diajar tetapi
permintaannya diajukan dalam bentuk pertanyaan, “bolehkah aku mengikutimu?”. Selanjutnya beliau menamai
pengajaran yang diharapkannya itu sebagai ikutan, yakni beliau menjadikan
diri sebagai pengikut dan pelajar. Beliau juga menggarisbawahi kegunaan pengajaran
itu untuk dirinya secara pribadi, yakni untuk menjadi petunjuk baginya. Dalam
konteks itu nabi Musa as. tidak menyatakan “apa yang engkau ketahui wahai hamba Allah swt.?”, karena beliau
seepenuhnya sadar bahwa ilmu bersumber dari satu sumber, yakni Allah swt.
swt. Yang Maha Mengetahui.
Kata
tuhith terambil dari kata ahaatha-yuhiithu, yakni melingkari.
Kata ini digunakan untuk menggambarkan penguasaan dan kemantapan dari segala
segi sudutnya bagaikan sesuatu yang melingkari sesuatu yang lain.
Hamba
yang saleh itu berkata “sesungguhnya engkau sekali-kali tidak kan sanggup
bersabar bersamaku”. Kata ma’iya/bersama
aku mengandung sebab ketidaksabaran itu. Dalam arti ketidaksabarannya bukan
karena pengetahuan yang dimiliki oleh hamba yang saleh itu, tetapi dari apa
yang dilihat oleh Nabi Musa as. Ketika bersama beliau.
Ucapan
Insya Allah swt. itu disamping merupakan adab yang diajarkan
semua agama dalam menghadapi sesuatu di masa depan, ia juga mengandung makna
permohonan kiranya memperoleh bantuan Allah swt. swt. Apalagi dalam belajar,
khususnya dalam mempelajari dan mengamalkan hal-hal yang bersifat
batiniah/tasauf. Disisi lain, perlu dicatat bahwa jawaban hamba Allah swt.
yang saleh dalam menerima keikutsertaan Nabi Musa as. sama sekali tidak memaksanya
ikut. Beliau memberim kesempatan kepada Nabi Musa as. untuk berpikir ulang
dengan mengatakan, “jika engkau
mengikutiku.” Beliau tidak melarangnya secara tegas untuk mengajukan
pertanyaan tetapi mengaitkan larangan tersebut dengan kehendak Nabi Musa as.
untuk mengikutinya..
Kalau kita simpulkan
bahwa memang demikianlah seharusnya seharusnya seorang pelajar, harus
bertekad bersunggug-sungguh dalam mencurahkan perhatian, bahkan tenaganya,
terhadap apa yang akan dipelajarinya.
Selanjutnya seorang
pendidik hendaknya menuntun anak didiknya dan memberi tahu
kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi dalam menuntut ilmu, bahkan
mengarahkannya untuk tidak mempelajari sesuatu jika sang pendidik mengetahui
bahwa potensi anak didiknya tidak sesuai dengan ilmu yang akan dipelajarinya.
|
4.
|
Dr.
Wahbah Zuhaily
|
Tafsir
al-Munir, fil ‘aqiidah, wasy syarii’ah,
wal manhaj
Hal.
322
- 324
|
Dalam ayat ini
dijelaskan, bahwa setelah Nabi Musa as. mendapatkan Nabi Khidir as. beliau
memberi salam serta memperkenalkan diri. Nabi Musa as berkata; “Bolehkah aku menemani dan mengikuti engkau
supaya mengajariku ilmu pengetahuan yang telah Allah swt. ajarkan kepadamu,
sehingga aku diberi petunjuk untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan amal
saleh ?. Ini menunjukkan pertanyaan yang lembut dan penuh kesopanan
(tidak ada paksaan)..
Pada ayat ini (68)
Nabi Khidir as. menjelaskan sebagai jawaban kepada Nabi Musa as. bahwa Nabi
Musa as. tidak akan sanggup untuk menemani Nabi Khidir as. Ini menandakan
Nabi Khidir as. diberi kelebihan oleh Allah swt. swt. yaitu ilmu pengetahuan
yang tidak dimilki oleh Nabi Musa as.
Ayat ini (68) sebagai
penegas (taukid) bahwa Nabi Musa
tidak akan sabar bersama Nabi Khidir as. Nabi Musa as. tidak akan mengetahui
hikmah dan kemaslahatan yang tersimpan secara hakikat dari kejadian tersebut.
Kata “khubran” adalah pengetahuan
yang mendalam.
Ayat ini (69)
menjelaskan tentang janji Nabi Musa as. kepada Nabi Khidir bahwa ia akan
sabar atas sesuatu yang akan terjadi di hadapan Nabi Musa as. dan tidak
menyalahi apa yang sudah ditetapkan oleh Nabi Khidir as.
Ayat ini menjelaskan,
bahwa Nabi Khidir as. menerima Nabi Musa as. sebagai murid dengan mengajukan
syarat bahwa Nabi Musa as. jangan mengajukan pertanyaan tentang sesuatu
sebelum Nabi Khidir as. menjelaskannya.
|
5.
|
Muhammad
‘Ali al-Shabuni
|
Shafwatu
al-Tafasir
Hal.
182
- 183
|
Pada ayat ke-66 Para
mufassir berpendapat, bahwa dialog ini merupakan bentuk etika/kesopanan yang
didalamnya penuh ketawadhuan dari Nabi Allah Yang Mulia, yakni Nabi Musa as.
Oleh karena itu seharusnya seorang murid yang ingin belajar kepada gurunya
mempunyai sifat seperti ini.
Pada ayat ke-67 ini
Ibnu ‘Abbas berpendapat: “Sekali-kali engkau tidak akan mampu bersabar atas
perbuatanku, karena sesungguhnya aku telah mengetahui sebagian dari keghaiban
ilmu Allah”.
“Bagaimana kamu akan
mampu bersabar atas perbuatan yang nampak sedangkan engkau tidak mengetahui
keghaibannya.
Nabi Musa menjawab:
“Insya Allah engkau akan melihatku seorang yang sabar, dan sekali-kali saya
tidak akan mendurhakai engkau”.
Ini adalah syarat
untuk Nabi Musa sebelum memulai perjalanan, yaitu jangan bertanya dan meminta
penjelasan tentang sesuatu dari tindakan-tindakan Nabi Khidir hingga Nabi
Khidir sendiri yang menjelaskan pada Nabi Musa tentang rahasianya.
Kemudinan Nabi Musa
menerima persyaratan Nabi Khidir tiada lain untuk menjaga tatakrama seorang
murid kepada gurunya. Makna “laa tas al
nii ‘an syai in” adalah janganlah bertanya sesuatu kepadaku hingga aku
sendiri yang menjelaskannya kepadamu.
|
6.
|
Abu
Ja'far Muhammad bin Jarir Al-Thabary
|
At-Thabari
Hal.
190
- 192
|
Nabi Musa as. berkata
kepada hamba yang berilmu, “bolehkah
aku mengikutimu supaya engkau mengajarkanku ilmu dari apa yang telah Allah
ajarkan kepadamu untuk menjadi petunjuk kepada jalan kebenaran”. Kemudian
Nabi Khidir as. (‘aalim) menjawab:
“sesungguhnya engkau tidak akan kuat untuk bersabar, itu disebabkan karean
aku diberikan oleh Allah ilmu batiniah, maka engkau tidak akan bersabar atas
apa yang aku kerjakan.
Ayat ini menjelaskan
ucapan hamba Allah yang berilmu (‘aalim)
kepada Nabi Musa as.; “bagaimana engkau bisa sabar terhadap sesuatu yang
engkau lihat dari perbuatan-perbuatan yang dengan ilmumu tidak bisa
membenarkannya, karena engkau melihat dengan ilmu lahiriah, sedangkan
pekerjaanku tidak didasari lahiriah.
Seorang yang ‘alim
(Nabi Khidir as.) berkata kepada nabi Musa as., ”Jika sekarang engkau
mengikutiku, maka engkau tidak boleh menanyakan sesuatu yang aku kerjakan
kemudian engkau akan mengingkarinya. Sesungguhnya aku lebih mengetahui apa
yang aku kerjakan secara batin dari segala seginya”.
|
7.
|
Abu
‘Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi
|
Al-Qurthubi
Hal.
187-188
|
Ayat ini menjelaskan, bahwa ini adalah
permohonan/pertanyaan yang lemah lembut (penuh dengan kesopanan) orang yang
meminta menjadi murid (Nabi Musa as.) yang baik budi pekertinya. Kata ( ) rusydan ialah supaya Nabi Khidir as. mengajar Nabi Musa as.
Ayat 67-68
menjelaskan bahwa Nabi Musa as. tidak akan kuat untuk bersabar terhadap
sesuatu yang akan dilihatnya, ini karena Nabi Musa as. melihat dengan
lahiriah sehingga tidak bisa mengetahui hikmahnya..
Nabi Musa as.
menjawab dengan kata insya Allah
artinya bahwa Nabi Musa as. akan bersabar dan taat kepada nabi Khidir as.
Nabi Khidir as.
menerima Nabi Musa as. sebagai murid dengan syarat bahwa Nabi Musa tidak
boleh menanyakan sesuatu hal sebelum nabi Khidir menjelaskannya.
Dari rangkuman diatas dapat kita
simpulkan bahwa seorang pelajar (muta’allim)
harus mengikuti / taat kepada guru (mu’allim)
walaupun derajatnya berbeda. Terkadang diluar kebiasaan bahwa Nabi Musa as.
seorang nabi dan rasul berguru kepada Nabi Khidir as. Kalau Nabi Khidir
seorang wali maka Nabi Musa as. lebih utama karena dia seorang nabi dan
rasul. Wallahu ‘alam.
|
8.
|
UUI
|
UUI
Hal.
Juz 15
773
- 775
|
Allah swt.
menggambarkan secara jelas sikap Nabi Musa as. sebagai calon murid kepada
calon gurunya dengan mengajukan permintaan berupa bentuk pertanyaan. Itu
berarti Nabi Musa as. sangat menjaga kesopanan dan merendahkan hati.
Kemampuan Nabi Khidir
as. meramalkan sikap Nabi Musa as. kalau sampai menyertainya adalah berdasar
ilmu laduni yang telah beliau terima dari Tuhan, disamping ilmu anbiya yang
dimilikinya.
Nabi Khidir as.
menegaskan kepada Nabi Musa as. tentang sebab Nabi Musa tidak akan bersabar
nantinya kalau terus menerus menyertainya. Di sana Nabi Musa as. akan melihat
kenyataan pekerjaan Nabi Khidir as. secara lahiriyah bertentangan dengan
syariat Nabi Musa as. Sedangkan secara batiniyah tidak mengetahui maksudnya
atau kemaslahatannya.
Musa as. berjanji
tidak akan mengingkari dan tidak akan menyalahi apa yang dikerjakan oleh Nabi
Khidir, dan berjanji pula akan melaksanakan perintah Nabi Khidir selama
perintah itu tidak bertentangan dengan perintah Allah swt.. Janji yang beliau
ucapkan dalam ayat ini dengan kata-kata “Insya
Allah swt.”
Ayat ini Nabi Khidir
as. dapat menerima Nabi Musa as. dengan pesan: “Jika kamu (Nabi Musa)
berjalan bersamaku, maka janganlah kamu bertanya tentang sesuatu yang aku
lakukan dan tentang rahasianya, sehingga aku sendiri menerangkan kepadamu
duduk persoalannya.
Maka kalau kita
simpulkan bahwa seorang murid harus selalu menjaga tatakrama kepada gurunya.
Selanjutnya bahwa ilmu laduni itu ada seperti halnya yang diberikan kepada
Nabi Khidir as.
|
E. Esensi Penafsiran
tentang pendidikan Q.S Al-Kahfi Ayat 66-70
Penafsiran diatas baik
penafsiran yang dilakukan oleh para ahli tafsir klasik maupun para ahli tafsir
modern intinya adalah mengarah pada pola pemikiran yang sama, yaitu berada
dalam ruang lingkup tentang kewajiban seorang guru terhadap anak didiknya, dan
etika/tatakrama seorang murid terhadap gurunya.
Sikap
yang telah dilakukan Nabi Musa as. ketika pertama kali bertemu dengan gurunya
adalah mengucapkan salam dan mengungkapkan niatnya dengan ungkapan yang halus
dan sopan santun. Ungkapan “Hal
attabi’uka” adalah salah satu contoh yang dikatakan oleh Nabi Musa,
disamping ungkapan lainnya.
Hal ‘attabi’uka, ditafsirkan oleh mufassir baik klasik atau modern, semuanya mengarah
pada pengertian yang lebih mendekati pada kedekatan antara seorang murid dan
guru, yaitu “menjadi sahabatmu”. Hal ini menjadikan dasar bahwa tidak mesti
sungkan bagi seorang murid meminta ilmu yang dimiliki guru. Hal ini juga
dipandang oleh Hamka sebagai bentuk pengakuan dan kesadaran diri seorang murid
akan tingkat kebodohannya diahadapan guru, serta indikasi yang mengarah pada
permintaan seorang murid agar mengajarkan ilmu yang belum diketahui oleh murid.
Ilmu
yang dimiliki oleh Nabi Khidir adalah ilmu yang langsung dari Allah swt. yang
tidak banyak diketahui oleh Nabi Musa as. dan ilmu yang dimiliki oleh Nabi
Khidir adalah ilmu yang hanya dapat diketahui dan diyakini lewat bathin,
sehingga disinilah letak kelebihan yang ada pada Nabi Khidir as. Sebagain para
mufair sepakat bahwa ilmu yang dimiliki oleh Nabi Khidir as. adalah ilmu
laduni.
Ungkapan
Khidir bahwa engkau (Musa) tidak akan bersabar dan tidak melanggar perintah
adalah bentuk teladan yang patut dicontoh, sebab disini akan diuji tingkat
kesabaran seorang murid atas yang dilakukan oleh seorang gurunya yang dianggap
diluar kemampuannya, tidak termasuk hal-hal yang ghaib.
Janji
dan pernyataan Nabi Musa as. dipandang oleh semua mufassir diatas adalah
mengarah untuk tidak mengingkari perintah dan yang dilakukan oleh Khidir hanya
sebatas yang zahir dan tidak bertentangan dengan perintah Allah, meskipun
bertentangan dengan Nabi Musa as.
Permintaan
guru kepada muridnya untuk tidak bertanya atas segala yang dilakukannya,
mengindikasikan sebuah ujian kepada Nabi Musa as. untuk bersabar menunggu.
Sebab suatu saat guru akan memberikan keterangan dan rahasianya. Proses
pembelajaran akan berjalan lancar jika perjanjian antara murid dan guru
disepakati, demikianlah yang dikatakan oleh Hamka.
Permintaan
yang dilontarkan oleh Nabi Khidir supaya tidak bertanya atas segala yang dilakukannya,
juga dianggap oleh sebagian mufassir diatas adalah sebagai bentuk permintaan
dan syarat yang harus diikuti oleh Nabi Musa as.. Kemudian syarat inipun
diterima dengan ikhlas tanpa ada tuntutan balik dari murid, serta dilakukan
oleh jiwa Nabi Musa as..
F. Riwayat Nabi Musa as. dan Nabi Khidir as.
1. Nabi Khidir as.
Khidir
bukanlah nama asli. Namun itu pada hakikatnya merupakan julukan belaka julukan
seseorang memang kerab ditemui di tanah arab. Julukan itu berkernan dengan
sifat, sikap, perbuatan atau nisbat. Seperti nasabnya, nama Khidir dalam banyak
riwayat juga menunjukkan suatu kontroversial. Menurut Ibnu Qutaibah, dari Wahab
bin Munabbih disebutkan bahwa Khidir itu bernama asal Balya bin Malkan Qoli’
bin Syalikh bin ‘Abir bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nun. Ismail bin Abi Uways
menyatakan Khidir itu adalah Muammar bin Malik bin ‘Abdillah bin Teksr bin Azd.
Sedangkan menurut menurut hikayat Abu Khathab bin Dahyah dari Ibn Habib al
Baghdadi dpat ibnu Qutaibah, bahwa Khidir itu bernama Amaniel bin Nur bin
‘Iyesh bin Ishaq.
Kontroversi
tentang nama itu, seperti riwayat hidupnya, juga tak lepas dari ketidakjelasan
sejarah ayah dan ibu Khidir. Tetapi nama yang banyak dipakai oleh kebanyakan
ulama ialah Balya bin Malkan. Dalam Bukhari Muslim, dalam penuturan Ahmad, dari
riwayat Ibnu Mubarak, dari Muammar, dari Humam dari Abi Hurairah, sebab
penamaan Khidir itu karena pada suatu hari ia duduk di tanah tandus berkapur.
Tiba-tiba di tanah tempat duduknya itu, rumput-rumput hijau bergerak tumbuh
seketika.
Secara
geografis tanah arab dikenal dengan tandus, karena terletak lebih tinggi dari
dasar laut dibanding daratan Eropa yang mempunyai iklim dingin atau Asia
Tenggara, misalnya yang rata-rata beriklim tropis. Karena itu, ketika
rumput-rumputan tumbuh pada ketandusan tanah, semua orang mengira itu merupakan
sesuatu yang aneh. Apalagi seperti yang dialami oleh Balya Ibn Malkan, dimana
pada tempat duduknya, tanah yang tandus itu, seketika tumbuh rerumputan yang
hijau dan segar. Selain ketertegunan pada rerumputan yang secara tiba-tiba
tumbuh tanpa adanya hukum sebab akibat tertentu, orang-oramg juga akan
menganggap aneh terhadap apa yang diceritakan oleh Abdurrazak kepada Imam
Ahmad, bahwa rumput itu berjingkrak-jingkrak. Pada keanehan itu, kemudian orang
Arab mengatakan Khidir, dan sejalan
dengan itu Balya Ibn Malkan mendapat julukan Khidir. Demikianlah diantara
pendapat ulama tentang nasab Khidir, pendapat-pendapat itu, tentu menunjukkan
suatu sikap yang kontroversial. Ini tak lepas dari keberadaan Khidir yang
mempunyai riwayat hidup yang sepertinya tidak jelas. Tetapi bahwa ini semua,
baik sikap kotroversial para ulama maupun keganjilan pemahaman terhadap
keberadaan Khidir merupakan bentuk dari kekuasaan Allah. Dengan menciptakan
keganjilan itu, mungkin Allah akan mengatakan pada manusia bahwa lajur hidup
dan kehidupan tidak serta-merta lurus, tetapi berwarna-warni.
Khidir
termasuk sebagian keganjilan itu sendiri, Allah swt. Memberikan sifat itu
padanya adalah sebagai rahmat. Karena rahmat itulah Khidir menjadi manusia yang
seakan “asing” dalam pemahaman kita, tetapi dia tetaplah sebagai salah seorang
Nabi-nabi Allah yang patut untuk kita imani.
Ilmu
yang dimiliki oleh Nabi Khidir adalah ilmu yang langsung dari Allah swt. yang
tidak banyak diketahui oleh Nabi Musa as. dan ilmu yang dimiliki oleh Nabi
Khidir adalah ilmu yang hanya dapat diketahui dan diyakini lewat bathin,
sehingga disinilah letak kelebihan yang ada pada Nabi Khidir as. Sebagain para
mufasir sepakat bahwa ilmu yang dimiliki oleh Nabi Khidir as. adalah ilmu
laduni.
2. Nabi Musa as.
Musa bin Imran bin
Fahis bin 'Azir bin Lawi bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim bin Azara bin Nahur bin Suruj bin Ra'u bin Falij bin 'Abir bin Syalih bin
Arfahsad bin Syam bin Nuh. Kemudian Musa menikah dengan puteri Syu’aib yaitu Shafura
(Shafrawa/Safora/Zepoporah) dan memiliki keturunan berjumlah 4
orang, mereka adalah Alozar, Fakhkakh, Mitha, Yasin, Ilyas. Dikatakan dalam kisah Muhammad di perjalanannya
menuju Sidrat al-Muntaha, bahwa Muhammad melihat Musa memiliki fisik
kekar, berambut lebat, tinggi, memiliki jenggot putih panjang menutupi dadanya,
rambutnya hampir menutupi badannya dan sembari memegang tongkat.
Musa diutus Allah
untuk memimpin kaum Israel ke jalan yang benar. Ia merupakan anak Imran dan
Yukabad binti Qahat, dan bersaudara dengan Harun, dilahirkan di Mesir pada pemerintahan Maneftah yang memiliki
julukan Ramses Akbar[
Musa mendapat
julukan Kalimullah yang artinya orang yang diajak bicara oleh Allah.
Bahkan tidak jarang dia berdialog dengan Allah, dialog antara seorang hamba
yang sangat dekat dengan Sang Kekasih Yang Maha Pengasih. Namun, melihat
julukan yang diberikan oleh Allah pada diri Musa, tampaknya Musa memang
satu-satunya Nabi yang memperoleh keistimewaan itu.
Belum ada tanggapan untuk "Nilai Pendidikan QS Al-Kahfi ayat 66-70"
Post a Comment